|
|
Alhamdulillah, telah lahir anak kami, sepasang kembar laki-laki, Rabu (15/4/2009) pukul 22.00 WIB di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta. Ibu dan kedua bayi dalam keadaan sehat. Bobot bayi pun normal, masing-masing 2,5 kg. Persalinan berjalan lancar. Hanya sekitar setengah jam saja setelah masuk Rumah Sakit.
Insya Allah, sepasang bayi laki-laki kembar ini akan kami beri nama Daffa Muhamad Hidayat dan Daffi Muhamad Hidayat. Mohon doa saudara-saudara dan para sahabat agar Daffa dan Daffi kelak menjadi pejuang-pejuang yang senantiasa menegakkan kebenaran dan keadilan serta menebarkan rahmat bagi seluruh alam. Mohon doa juga agar kehadiran buah cinta kami ini menjadi pengganda semangat kami dalam berjuang di jalan Allah.
Kamis (9/4/09) pagi ini, saya akan mencontreng di TPS 47 Kelurahan Jatimakmur RT 01 RW 09, Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat. Sebab, meski dicalonkan dari Dapil V Jawa Tengah (Solo, Klaten, Boyolali, Sukoharjo), secara resmi saya masih berdomisili di Pondok Gede.
Kendati begitu, dimanapun kita mencontreng, Insya Allah menjadi amal shaleh kita dalam memperbaiki nasib bangsa ini. Renungkan dahulu sebelum kita memantapkan pilihan. Jangan lupa, niatkan sebagai bagian dari ibadah kita kepada Allah. Insya Allah, pilihan kita akan menjadi berkah.
Gunakan hak pilih anda. Jangan golput ! Sebab, Golput bukanlah solusi. Tidak ada alasan yang membenarkan tindakan golput. Undang-undang pun tidak menyebutkan bahwa tidak memilih adalah hak. Yang hak adalah memilih.
Menggunakan hak pilih, sama dengan memberikan kontribusi terhadap perbaikan negara. Jika golput, sama saja membiarkan caleg-caleg yang tidak baik untuk menduduki kursi wakil rakyat. Maka, siapa pun yang ingin perubahan ,ikutlah pemilu. Pilih yang baik agar menghasilkan undang-undang yang baik juga.
Selamat mencontreng !

Assalamualaikum warahmatullaahi wabarakaatuh,
Saudara-audaraku, semoga rahmat dan berkah Allah Ta’alaa selalu dikaruniakan untuk sudaraku sekalian.
Pemilu tinggal beberapa hari. Masih ada waktu untuk berfikir cerdas untuk memutuskan pilihan terbaik bagi bangsa ini. Suara anda sangat menentukan baik buruknya masa depan bangsa yang kita cinta. Karenanya, gunakanlah hak pilih saudara pada Pemilu 9 April 2009.
Mungkin ada yang ingin membeli suara atau bahkan mengintimidasi anda. Tapi saya saya yakin, saudara tidak akan tergoda, apalagi terpedaya. Saya percaya, karena anda warga negara Indonesia yang bermartabat dan berdaulat.
Saudara-saudara tentu akan memilih calon wakil rakyat yang terbukti dan teruji bersih dan peduli untuk mewujudkan DPR dan DPRD yang bersih dan profesional, bermartabat untuk rakyat dan mampu mengawasi negara agar korupsi bisa dihabisi. Agar rakyat sejahtera dan negara makin sentosa.
Wassalamualaikm warahmatullaahi wabarakaatuh.
Salam Hormat,
Hidayat Nur Wahid

Sangat sering saya menerima pertanyaan dari masyarakat maupun kalangan pers perihal kesiapan saya menduduki kursi RI-1 atau RI-2. Berulangkali saya menjelaskan, berulangkali pula pertanyaan itu diajukan di lain tempat dan kesempatan. Apalagi, survey-survey selalu menyebut nama saya dalam bursa Capres dan terutama bursa cawapres.
Jika pertanyaannya adalah ihwal kesiapan, saya selalu menjawab, sebagai kader partai saya siap menjalankan apapun yang diamanahkan oleh partai. Baik itu menjadi capres maupun cawapres atau menjadi apapun. Siap juga jika amanah itu adalah untuk mendukung kader lain jika Majelis Syuro memutuskan begitu.
Inilah tradisi dalam menentukan calon pemimpin di tubuh partai dakwah ini. Segala keputusan penting diambil di dalam rapat Majelis Syuro. Karena itu, sepenuh hati saya akan mengikuti kebijakan apapun yang akan diputuskan oleh lembaga tertinggi partai. Sebagai kader, saya siap melaksanakan apapun keputusan PKS.
Kesiapan ini bukan didorong oleh semangat mencari popularitas dan kedudukan. Saya hanya ingin nasib bangsa Indonesia semakin baik. Tidak ada niatan untuk mencari popularitas untuk kegiatan yang selama ini saya lakukan. Karenanya saya juga merasa tidak perlu meningkatkan popularitas seperti yang sebagian orang bayangkan. Jujur ya, saya tidak mempunyai interest dan misi ke arah RI-1 atau RI-2.
Komitmen yang saya miliki, yang telah dirasakan oleh rakyat adalah dengan menghadirkan perilaku politik yang bersih, peduli dan profesional. Saya kira itu bagian yang bisa disumbangkan untuk kemajuan bangsa ini.
Berjuang untuk umat memang tidak hanya melalui jalur politik. Banyak jalur lain. Tetapi, jalur politik itulah salah satu yang masih saya lakukan sampai hari ini. Justru dengan politik kita bisa membuka lebih luas lagi pintu-pintu untuk memperjuangkan kepentingan umat dan sekaligus kepentingan bangsa. Karena kita berada di Indonesia. Itulah salah satu niat utama saya memasuki ranah politik.

Setiap menjelang Pilkada dan Pemilu, selalu saja muncul tuduhan kuno ini. PKS = wahabi ! Begitu kata para penuduh yang bicara bisik-bisik tanpa mau menunjukkan jatidirinya.
Sejatinya, tak perlu repot-repot menjawab tuduhan tersebut. Sebab, dengan gamblang terlihat di depan mata bahwa tuduhan itu tidak benar. Apa alasannya ?
Para penganut wahabi adalah mereka yang anti politik. Mereka mengharamkan dan menganggap bid’ah partai politik. Itu artinya, tudingan bahwa PKS Wahabi dengan sendirinya terbantahkan. Sebab, jika para pendiri dan kader PKS adalah penganut Wahabi, tentu mereka tak akan mendirikan partai politik.
Lucunya, mereka yang anti Wahabi menuding PKS itu Wahabi. Sebaliknya, para penganut Wahabi sendiri menuduh PKS ahlul bid’ah karena berpolitik dan mendirikan partai politik… Jadi yang benar mana ? PKS itu Wahabi atau ahlul bid’ah ? Tentu saja bukan dua-duanya…
Suatu hari, seorang yang menganggap PKS itu Wahabi bertandang ke kantor DPP PKS. Lagi-lagi dia sampaikan anggapannya bahwa PKS Wahabi. Saya katakan kepada orang yang pernah tinggal di Arab Saudi ini, “Lihatlah para akhwat aktivis PKS, adakah di antara mereka yang berpakaian hitam-hitam dan serba tertutup seluruh tubuhnya seperti biasa anda lihat di Arab Saudi ?” Dan memang tidak ada yang seperti itu. Itu juga salah satu bukti bahwa PKS bukan Wahabi.
PKS berjuang untuk kejayaan NKRI. Karena itu, hal-hal yang melekat dalam konteks ke-Indonesiaan seperti masalah pluralitas dan toleransi akan selalu dijunjung tinggi. Prinsipnya, kita memang menjunjung pluralitas dan toleransi dalam kehidupan beragama di Indonesia tercinta ini.
Saya bersyukur didampingi perempuan-perempuan yang kuat. Ada ibu saya. Almarhumah istri pertama. Dan sekarang istri kedua.
Sungguh, support dari makhluk Allah yang kerap diidentikkan dengan kelemahan ini amat menguatkan setiap langkah saya dalam beraktivitas.
Termasuk di antaranya, dukungan istri ketika berkampanye di Lapangan Blok S, Jakarta Selatan, Jumat (20/3/2009) lalu. Padahal, istri saya tengah mengandung 7 bulan, buah cinta kami. Bukan cuma 1, tetapi kembar 2 anak lelaki !
Subhanallah…
TAK ada bangsa yang maju tanpa kemandirian bangsanya. Tetapi, tak perlu terlalu jauh membayangkan hal-hal besar untuk menumbuhkan kemandirian itu. Sebab, kemandirian bisa kita bangun dari hal-hal kecil di dalam diri kita sendiri. Kalau setiap orang mau melatih diri sendiri untuk mandiri dalam segala hal, Insya Allah bangsa Indonesia akan jaya sebagai bangsa yang mandiri.
Sejak kecil, saya coba melatih diri untuk mandiri, seperti hal-hal berikut ini:

menyemir sepatu sendiri…

Menyeterika baju sendiri

makan sederhana dengan khazanah kuliner bangsa sendiri. Saya suka sego pecel, trancam, kerupuk karak dan yang tradisional semacam itu.

Dorong ekonomi bangsa sendiri dengan bercukur di tempat-tempat sederhana seperti ini.
Dan banyak lagi hal-hal kecil yang bisa dilakukan oleh siapapun anak bangsa Indonesia. Memang hanya hal-hal kecil, sepele dan remeh temeh. Tetapi, bukankah yang besar berawal dari sesuatu yang kecil ?
Jumat (13/3/2009) pukul 09.00 pagi – selesai, saya selaku Ketua Dewan Pembina Yayasan Masjid Raya Al Muttaquun, Prambanan, Klaten, Jateng, menghadiri peresmian masjid tersebut. Semula direncanakan diresmikan oleh Bapak Presiden SBY, Namun, karena satu dan lain hal, diwakilkan kepada Menteri Dalam Negeri, Bapak Mardiyanto. Masjid ini adalah paduan keunggulan arsitektur Masjid-masjid Jawa kuno dan Masjidil Haram serta Masjid Nabawi di Makkah dan Madinah, juga masjid Cordova di Spanyol. Bagi saudara-saudara yang sempat, silakan turut hadir. 
Blok M, Blok S dan Blok J sudah sering disebut-sebut. Di ketiga blok itu, unsur H selalu disebut-sebut layak menjadi pasangan.
Belakangan, ada juga yang memunculkan Blok H. Nah, kalau ada Blok H, siapa pasangan yang pas ? Beberapa alternatif sudah muncul dari guyonan (canda) maupun lontaran serius sejumlah teman. Inilah sebagian di antaranya:

Bagaimana kalau pasangan HNW-SBY ?

Kalau HNW-JK ?

HNW-HB X ?

HNW-RM ?

HNW-IF ?

HNW-Cak Nun ?

HNW-Noe “Letto” bin Cak Nun ?

HNW-Ki Manteb ?

HNW-Pakde Karwo ?

HNW-Aa ?

HNW-Dek Pendi Republik Mimpi ?

HNW-UK (Ucup Keliek) ?

HNW-Bu Rina “Bupati Anthurium” ?

HNW-BS (Bambang Supriyanto, Juara Dunia Bulutangkis) ?

HNW-Pak Gesang “Bengawan Solo” ?

HNW-Mbah Lim Klaten ?

HNW-MM (Mbah Marijan) ? Rosa !
Atau pasangan lain ?
Pilihan amat banyak. Banyak yang mau dan yang mampu.

Tetapi yang jelas, HNW sudah punya pasangan koalisi permanen. Ini dia…
.
..
scroll terus ke bawah
…
….
scroll terus ke bawah untuk mencari pasangan koalisi permanen
…..
……
terus
…….
………
lagi
………….
…………….
Nah…………

Inilah pasangan koalisi permanen itu….
Setuju ?

Jakarta – Gegap gempita pemberitaan wacana koalisi memasangkan Wakil Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla dengan mantan Presiden PKS Hidayat Nur Wahid selesai sudah. Silaturrahim Jusuf Kalla pada Kamis(26/2) lalu di Kantor DPP PKS itu belum menghasilkan kata sepakat menuju pilpres 2009.
HNW Online: Menurut anggota Majelis Syuro PKS Dr Hidayat Nur Wahid, koalisi partai untuk memasangkan capres dan cawapres untuk saat ini masih melihat dinamika politik. Hidayat memaparkan sejumlah fakta bahwa, meski PKS-Golkar pernah berkoalisi di sejumlah pilkada namun belum tentu koalisi di pilkada lainnya.
Hidayat mengatakan hal tersebut pada acara Diskusi Pekanan di Kantor DPP PKS Jl Mampang Prapatan Raya No. 98 D-E-F, Jakarta. Hidayat menjadi pembicara bersama Ketua Umum Golkar Jusuf Kalla. Selain Jusuf Kalla, hadir pula Ketua Fraksi Golkar di DPR Priyo Budi Santoso, Fahmi Idris, Burhanudin Napitupulu dan Aksa Mahmud.
“Meski koalisi di daerah sudah terjalin, namun itu belum menjadi tolak ukur yang pasti. Meski di Kepulauan Riau, PKS dan Golkar berkoalisi tapi di Jawa Barat koalisi tidak terjadi. Belum lagi melihat hasil pilkada terakhir di Jawa Timur. Suara koalisi partai besar Golkar-PDIP-PKB bisa dikalahkan koalisi PKS-Demokrat dan PAN,” papar Hidayat.
Faktanya juga, lanjut Ketua MPR, pemilu belum dimulai, partai politik sedang bekerja maksimal untuk mencapai target yang telah ditentukan. Fakta yang lain, MK telah “membatalkan” ketentuan calon anggota legislative sesuai nomor urut sebagaimana yang telah disusun oleh partai politik. Ketentuan itu menjadi suara terbanyak yang akan menjadi anggota legislatif.
“Faktanya juga bahwa untuk mencalonkan presiden dan calon wakil presiden harus lulus presidential threshold. Itu artinya, peta politik masih sangat dinamis,” kata Hidayat.
Namun, dengan bercanda Hidayat mengatakan tidak menutup kemungkinan adanya koalisi permanen antara dirinya dengan Golkar. Menurutnya saat ini Hidayat bahkan sudah koalisi terlebih dahulu dengan Istrinya, dr Diana, yang keturunan Golkar alias Golongan Keturunan Arab.
Di hadapan fungsionaris PKS dan Golkar, Hidayat mengatakan semoga silaturrahim dan diskusi malam itu merupakan sarana perkenalan yang lebih mendalam lagi antara keluarga besar Golkar dan PKS.
“Malam hari ini adalah mudah-mudahan taaruf yang lebih mendalam lagi, dengan Pak JK, dengan Golkar. Dengan Pak Aksa (Aksa Mahmud) saya lebih terbiasa lagi. Karena beliau wakil saya di MPR. Mudah-mudahan malam ni memberikan suatu pencerahan. Buat kita boleh berbeda-beda politik, tapi tetap tujuan kita sama menjadikan Indonesia yang lebih adil, lebih sejahtera,” pungkas Hidayat.
|
|
Recent Comments