Yang Menguatkan…
Saya bersyukur didampingi perempuan-perempuan yang kuat. Ada ibu saya. Almarhumah istri pertama. Dan sekarang istri kedua.
Sungguh, support dari makhluk Allah yang kerap diidentikkan dengan kelemahan ini amat menguatkan setiap langkah saya dalam beraktivitas.
Termasuk di antaranya, dukungan istri ketika berkampanye di Lapangan Blok S, Jakarta Selatan, Jumat (20/3/2009) lalu. Padahal, istri saya tengah mengandung 7 bulan, buah cinta kami. Bukan cuma 1, tetapi kembar 2 anak lelaki !
Subhanallah…

Alhamdulillah, semoga bayi-bayinya, sempurna tubuh dan rupa-nya. Sehat ibunya dan lancar melahirkannya.
Amin.
Aamiin… terima kasih doanya.
Subhanallah…
Insya Allah Langusng Dua ya pak.
Wah makin Sibuk Nih nanti
sering bangun malem nih.
Semoga Menjadi Anak yang Soleh dan solehah..
Calon Pemimpin Dunia Insya Allah Akan lahir.
Amiin..
Aamiin… terima kasih doanya, mas…
Salam kenal dari saya yang berada di pojok negeri aneh ini. Saya termasuk bangsa Indonesia yang ikut gemas melihat pemimpin yang ada sekarang ini. Dan semoga saja tidak terlampau pesimis dengan para calon pemimpin yang kini tengah merebut hati rakyat, walaupun nampaknya tidak kalah busuknya dengan pemimpin sebelumnya. Bayangkan, demi ambisi pribadi/golongan mereka berani jual agama. Tidak tanggung-tanggung, Tuhan dipolitisir ! Apalagi rakyat.
Melihat kandidat pemimpin yang tengah berlomba merebut kursi sekarang ini, rasanya saya ingin sekali berseru, “Cape deeeee…h !Tapi, untungnya saya tidak ikut stress. Karena diam-diam hati saya berbisik dengan mengatakan, ” Tonton saja keadaan pemimpin terpilih kelak, meskipun ternyata rakyat memilih srigala berbulu domba, koruptor berwajah manis dan nampak alim bak ahli ibadah dengan tanda hitam di jidat “. Tonton saja. Sebab, hemat saya, jika rakyat ternyata memilih pemimpin yang munafik, berarti gambaran dari hati rakyat itu sendiri yang pastinya juga munafik. Intinya, ALLAH tidak akan memberi pemimpin yang bertaqwa, jika rakyatnya sendiri tidak bertaqwa. Karena saya sangat yakin, manusia sekedar akibat, bukan penyebab. Tuhanlah Yang Maha Penyebab. Jadi, azab Tuhan tidak sebatas kejadian bencana alam. Terpilihnya pemimpin yang kejam, rakus, serakah dan lain-lain juga suatu bencana.
Angan-angan saya akan munculnya seorang pemimpin yang ideal, yang mengikuti jejak Rasulullah sepertinya tunda dulu. Masih jauh. Tapi mereka ada. Sepertinya masih disembunyikan Tuhan di dalam kepongpongNya. Mereka kini masih terjaga sekali dari ruang publikasi. Bahkan jika anda suatu saat mungkin berpapasan dengannya, anda tidak akan mengenalinya. Karena terlampau biasa. Penampilannya tidak klimis kayak presenter TV, tidak bejas atau apalagi berdasi, bahkan penampilannya tidak mencirikan orang alim seperti gambaran masyarakat umum; berjenggot, pakai celana potongan menggantung, apalagi memakai jubah bak Osama Bin Laden. Gak banget ! Ia tidak mementingkan penampilan luar, apapun itu alasannya. Karena semakin bertaqwa seseorang semakin ia tidak membutuhkan pengakuan masyarakat yang gampang terkecoh dengan penampilan seseorang.
Pemimpin yang tengah diidam-idamkan bangsa ini yang saya gambarkan itu sebenarnya merasa sepi di tengah keramaian, kecuali ia hanya merasa berdua dengan ALLAH. Ia selalu curiga dengan gerak-gerik hatinya sendiri dari sifat-sifat tercela; seperti ria, sombong, gila hormat, dsb. Ia merasa berusaha untuk terus menjaga hatinya untuk tetap dalam kondisi ikhlas, sebab ia memang merasa butuh terus mengabdi kepada ALLAH, bukan mengabdi demi bangsa ini, bukan pada teman, keluarganya bahkan ego-nya. Sebab, ia tahu betul, semua itu hanya mahluk. Jadi untuk apa mengabdi demi mahluk. Bukankah itu jelas-jelas kemusrikan ? Ia tidak mau menduakan cintaknya kepada ALLAH. Sekecil apapun itu, dan selogis apapun argumen akal pikiran yang melegalkan kemusrikan di hati.
Pemimpin yang hanya menaruh cintanya kepada ALLAH tentu ia akan cinta juga kepada rakyat yang dipimpinya. Tidak mungkin tidak. Sebaliknya, pemimpin yang cinta rakyat belum tentu cinta kepada Tuhannya. Jangankan cinta, yakin kepada ALLAH saja mungkin tidak. Cinta palsu seperti itu lama-lama akan terkuak juga. Rakyat akan tahu, ia cinta rakyat hanya saat kampanye saja, ia cinta sesama rekan politis saat membutuhkan dukungan politik saja, ia cinta tanah air hanya ketika ia tahu sumber daya alam bangsa ini sangat menguntungkannya, dan lain-lain.
Jangan desak saya untuk menyebutkan nama atau inisial calon pemimpin bertaqwa yang muncul di masa depan itu. Saya tidak akan sanggup menjawabnya. Saya hanya tau dari karakter dan Lembaga Pendidikan yang menggemblenggnya. Tapi apa nama Lembaganya itu pun mungkin saya tidak mau menyebutkannya. Saya hewatir anda malah dibuat bingung. Hehehehheheh………
Wassalam,
Rakyat Indonesia
Iya… saya bingung dengan penuturan anda… he he…
Saya selalu meyakini, pemimpin itu lahir dari rahim ummat. Bukan tiban seperti satrio piningit yang ujug-ujug muncul entah darimana dan tiba-tiba dipersepsikan mampu memimpin. Pemimpin itu lahir, digembleng dan besar bersama umat yang dipimpinnya. Karenanya, ia mencintai umatnya sebagai ekspresi cintanya kepada Allah…
Assalamu’alaikum Pak
Pertama-tama saya ucapkan alhamdulillah karena bisa mengakses blog Bapak yang ada timbal baliknya dan saya ucapkan semoga Pak Hidayat dalam selalu lindungan Allah SWT.
Saya disini ingin tabyyun perihal statement bapak yang ada didetik.com
Yang kurang lebih seperti ini isinya:
“Saya suka sekali KFC. Saya salah satu penggemar KFC. Jadi jenggot bukan ukuran seseorang bisa atau tidak menjadi pemimpin bangsa,” kata Hidayat.
Oleh karena itu saya ingin tahu kebenaran berita tersebut.
Klo benar bapak berstatement seperitu itu, bukankah secara tidak langsung Bapak telah membuat suatu kesalahan karena ketika Bapak berdemo dalam mengutuk serangan Zionis dengan memboikot produk2 mereka, bapak malah mendukung KFC.
Maka dari itu, disni saya hanya ingin mengkormasi dan bertabayyun mengenai berita tersebut.
Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terima kasih dan jazakallah atas perhatiaannya.
soal memboikot tidak sederhana akhi… apalagi terkait produk yang sudah melibatkan banyak saudara-saudara kita sendiri di sini. Pernyataan tadi saya buat dalam konteks “jenggot” dan tidak dalam rangka mendukung atau menolak KFC. Wallahu a’lam
Sebelumnya saya mohon maaf sebesar-besarnya, bila kehadiran saya(lagi) merepotkan Bapak.
Hal ini dikarenakan saya ingin mengutamakan tabayyun dalam setiap informasi yang ada.
Memang diakui bahwa boikot-memboikot sulit dalam pelaksanaannya karena terkandung unsur habluminallah dan bermasyarakat. Akan tetapi, setidaknya statement bapak yang lontarkan bisa menjadi multi tafsir tersendiri, termasuk saya yang awam info ini.
Mungkin Bapak bisa mengkorelasikan KFC tersebut dengan “Jenggot”, akan tetapi saya melihat statement tersebut tidak terjaga kehati-hatiannya Pak. Karena “lawan” PKS tidak sedikit yang banyak melontarkan fitnah2 dan informasi2 HOAX baik dari harakah lain maupun partai.
Makadari itulah selama ini saya berusaha mencari2 informasi tentang Bapak.
Dan Alhamdulillah sekarang sudah ketemu
Dan saya sendiri sempat bersitegang perihal ini di sebuah forum Islam dengan ikhwah PKS.Sampai-sampai saya dikatai “Manusia Aneh” hanya untuk mengetahui dan tabayyun statement bapak tersebut. Berikut linknya:
http://myquran.org/forum/index.php/topic,14123.3975.html
Padahal saya hanya ingin mencari kebenaran bukan pembenaran.
Klo bapak ada waktu, mungkin bisa berkenan silaturahim ke forum tersebut.
Sekedar masuk saja, saya sudah bersyukur… Hitung-hitung silaturahim didunia maya.
Afwan jiddan bila ada kata-kata yang salah Pak.
Jazakallah khairan katsir atas waktu yang telah bapak luangkan dalam menanggapi postingan saya.
Semoga Allah SWT memudahkan kesulitan-kesulitan Bapak dan Keluarga.
Juga tak lupa, semoga PKS tetap istiqamah, hamasah dan amanah.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh
Dany Syahban
Tak perlu mohon maaf akhi… semangat kita sama. Yakni semangat untuk menemukan dan memperjuangkan kebenaran. Dan perjuangan kebenaran itu selalu menemukan lawan. Itu sunnatullah. Setiap sikap, perkataan dan perbuatan kita pasti selalu dimultitafsirkan, utamanya tafsiran yang buruk, oleh mereka yang tidak menyukai jalan lurus yang kita tengah tempuh.
Saya paham statemen saya soal KFC itu sangat terbuka untuk dimultitafsirkan dan ditafsirburukkan tadi. Sekadar mengingatkan, bahwa konteks pembicaraan ketika itu adalah “pemimpin berjenggot”. Maka saya menggunakan bahasa orang yang bertanya, dengan mengingatkan bahwa ada orang-orang berjenggot yang berhasil menjadi pemimpin. Dan contoh yang saya ambil adalah orang berjenggot yang berada di luar komunitas yang mereka bayangkan. Bayangan mereka, yang berjenggot itu hanya kalangan aktivis Islam, atau ekstremnya, teroris. Seringkali mereka lupa, bahwa jenggot bukan simbol ekstremitas. Maka saya ambilkan contoh adalah Kolonel Sanders yang mereka tidak memiliki resistensi dengannya. Siapapun harus mengakui, faktanya, Kolonel Sanders memang sukses menjadi pemimpin sebuah usaha.
Soal statemen saya “Saya suka KFC”, itu nilainya sama dengan jika saya katakan, “Saya suka kerupuk karak dari Klaten”. Sama sekali tidak ada tendensi untuk mendukung gerakan zionis yang kita kutuk sama-sama. Apalagi, seperti saya katakan sebelum ini, soal boikot memboikot memang butuh pertimbangan panjang. Tidak bisa asal tubruk segala yang berbau Amerika. Yang mungkin kita lakukan saat ini adalah memberdayakan khazanah bangsa sendiri dengan menumbuhkembangkan kecintaan kepada produk bangsa sendiri. Kalau saya bilang “saya penggemar KFC” itu juga tidak bermakna saya punya waktu rutin untuk menikmati KFC. Saya hanya pernah mencicipi KFC dan jujur, menggemarinya. Itu saja. Selebihnya, saya masih lebih suka dan lebih sering menikmati trancam, urap, sego pecel, sego liwet dan kerupuk karak.
Tetapi, lagi-lagi, pasti statemen saya itu bakal ditafsirkan sesuka hati oleh siapapun. Jazakumullahu khairan katsiir atas nasehat antum agar saya lebih berhati-hati mengeluarkan statemen, Terima kasih juga atas doa-doa antum. Semoga Allah mengabulkannya juga untuk antum dan keluarga
Assalamualaikum, Pak. Ana Cepi. Orang pelosok yang coba menelusuri dunia meski hanya dunia maya. Biar lokal tapi pergaulan global, hehe… Selamat, Pak. Memiliki orang2 yang menguatkan. Saya hanya punya seorang yang menguatkan, yaitu ibu saya tercinta. Belum punya kalau calon ibu anak saya, he..he.. Saya berdoa, semoga Bapak istiqomah menjadi pemimpin yang amanah, bahkan jadi pemimpinnya pemimpin yang menjadi tauladan yang lain. Baarkallahu fiikum
Aamiin… mohon selalu diingatkan…