Pages

Recent Comments

Categories

Bertemu JK dan Tifatul, Hidayat Berpantun Jawa

Jakarta – Kamis (26/2), malam, mungkin menjadi malam yang berbeda di Kantor DPP PKS Jl Mampang Prapatan Raya No. 98 D-E-F, Jakarta. Bukan karena kedatangan tamu yang special sekelas wakil presiden, tetapi karena sambutan para pembicara Diskusi Pekanan PKS yang membuat suasana serius menjadi santai.

HNW Online: Meski pembicara utama pada diskusi yang bertema “Ke arah Mana Koalisi Pasca Pemilu Legislatif 2009?” hanya Hidayat Nur Wahid dan Jusuf Kalla, namun sambutan keduanya mendapat respon yang ceria. Adalah Presiden PKS Tifatul Sembiring yang membuka sambutan dengan memberikan pantun. Hal ini memang biasa Ia lakukan sebagaimana pada sambutan-sambutan lainnya.

“Jalan-jalan ke Kota Padang, mampir ke Solok membeli beras. Kalau pak JK datang ke Mampang, maka isyarat sudah jelas,” ujar Tifatul mengawali sambutannya.

Tak pelak seluruh hadirin yang memenuhi ruangan rapat PKS itu pun tertawa termasuk Jusuf Kalla dan Hidayat. Sambutan Presiden PKS itu membuat Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Ketua MPR Hidayat Nur Wahid merasa tertantang membuat pantun. Saat Wapres menyampaikan sambutan, pantun pun mengalir dari mulutnya.

“Ini ladang bukan sembarang ladang, tapi ladang jerami. Saya datang bukan sembarang datang, tapi untuk silaturahmi,” sambut JK.

Pantun yang berbeda datang dari Hidayat Nur Wahid. Usai memberikan pendahuluan, Hidayat yang asli Klaten pun memberikan pantunnya. Namun kali ini pantunnya berbeda karena menggunakan bahasa Jawa.

“Amenangi zaman edan, ewuh oyo ing pambudi. Melu edan ora tahan, yen tan melu anglakoni. Boya kadum melik, kaliren wekasanipun. Ndilalah karsa Allah, begjo-begjane lali, luwirah begjo kang eling lawan waspodo,” ujar Hidayat.

Hidayat menerjemahkan, zaman ini zaman edan. Orang yang tidak ikut edan akan tergilas. Seberuntung-beruntungnya orang adalah orang yang bijak dan selalu waspada.

Anggota Majelis Syuro PKS ini mengatakan, dirinya menyampaikan pantun Jawa untuk menegaskan identitasnya yang asli Klaten, Jawa Tengah.Bahkan Hidayat bercerita, dalam satu bulan Ia menggelar wayang dua kali.

Selain Hidayat, JK dan Tifatul, diskusi dihadiri oleh fungsionaris PKS dan Golkar. Dari PKS hadir M Razikun(Ketua Bapilu), Ledia Hanifa(Ketua DPP Bidang Kewanitaan), Mabruri(Ketua DPP Badan Kehumasan), Untung Wahono(Ketua DPP Bidang Polhukham) serta MArtri Agung(Ketua Pembinaan Wilayah).

Sedangkan dari Golkar hadir pula Fahmi Idris, Burhanudin Napitupulu, Priyo Budi Santoso dan Aksa Mahmud.

Sukseskan Pemilu Legislatif Dulu…

padang

Jakarta – Ketua MPR Dr Hidayat Nur Wahid menyatakan prihatin dengan proses persiapan pemilu yang sedang berlangsung. Untuk itu Hidayat meminta agar seluruh pihak bis abantu membantu mensukseskan pemilihan legislatif.

HNW Online: “Sebelum membicarakan calon presiden dan wakil presiden, seharusnya seluruh pihak termasuk media massa agar memastikan pemilu lagislatif.berjalan sukses. Karena kekhawatiran terhadap suksesnya pemilihan legislative itu sangat tinggi. Hal itu bisa dilihat dari persiapannya yang belum maksimal,” katanya menjawab pertanyaan wartawan soal kesiapannya menjadi cawapres Jusuf Kalla, Senin(23/2), di Gedung DPR/MPR.

Beberapa persiapan pemilu yang belum maksimal menurut mantan Presiden PKS ini adalah verifikasi Daftar Pemilih Tetap(DPT), distribusi logistik pemilu, sosialisasi cara memilih dan keputusan MK tentang penetapan suara terbanyak yang akan menghadirkan sengketa suara antar caleg.

“DPT belum diverifikasi antara data yang dimiliki pusat dengan yang ada di daerah. Pada DPT masih terdapat pemilih yang ganda, yang sudah meninggal, satu keluarga punya 100 anggota keluarga, mana mungkin,” katanya prihatin.

Selain itu, anggota Majelis Syuro ini juga menyayangkan sosialisasi KPU yang belum merata. Padahal, sistem pemilihan nanti berbeda dengan pemilu sebelumnya. Hidayat mencontohkan cara mecoblos yang nanti sudah tidak dipakai lagi melainkan dengan mencontreng atau mencentang.

Hal lain yang sama sekali baru, lanjut Hidayat, adalah keputusan Mahkamah Konstitusi soal penetapan suara terbanyak. Dengan sistem ini diprediksi akan banyak sengketa antar caleg di dalam satu partai. Baik MK maupun partai mengatakan bukan kewenangannya untuk menyelesaikan itu, sedangkan KPU tidak tahu aturan hukum mana yang akan dipakai.

“Bagaimana jika terjadi sengketa antar caleg, siapa yang akan menyelesaikan masalah ini. Sampai hari ini belum ada yang bertanggung jawab untuk menyelesaikannya,” kata Hidayat.

Dengan banyaknya faktor tersebut, mestinya seluruh pihak berkonsentrasi untuk mensukseskan penyelenggaraan pemilu legislatif. Hidayat menerangkan bahwa proses pemilu harus dijalankan secara bertahap.

“Tidak mungkin kita membahas capres dan cawapres kalau peta politiknya belum selesai,” katanya.

Saya Siap Melaksanakan Amanah Partai

Jakarta – Ketua MPR Dr Hidayat Nur Wahid menyatakan siap melaksanakan apapun keputusan partai, termasuk dicalonkan untuk menjadi presiden dan atau calon wakil presiden pada pilpres 2009. Bahkan Hidayat Nur Wahid siap mendukung dan berada di garda terdepan mendukung kader lain yang diputuskan oleh partai. Namun demikian, Hidayat meminta agar seluruh pihak mensukseskan pemilihan legislatif terlebih dahulu.

HNW Online: “Jika Majelis Syuro PKS telah memutuskan, sebagai kader partai saya siap melaksanakan keputusan itu,” kata Hidayat Nur Wahid menjawab pertanyaan wartawan, Senin(23/2), di Gedung DPR/MPR.

Anggota Majelis Syuro PKS itu melanjutkan, dirinya mengapresiasi kepada Partai Golkar, Demokrat dan PDIP yang telah menominasikan kader PKS sebagai calon wakil presiden pada 2009. Namun Hidayat mengatakan dirinya dan kader PKS tidak terobsesi dan apalagi mengejar jabatan.

Mantan Presiden PKS itu mengatakan hal tersebut menanggapi pencalonan dirinya sebagai wakil presiden yang akan dipasangkan dengan Jusuf Kalla pada pemilihan presiden 2009.

“Saya mengapresiasi atas niat baik mereka terhadap kader PKS. Meskipun demikian perlu saya sampaikan bahwa, Saya dan kader PKS lainnya tidak pernah terobsesi dan mengejar-ngejar jabatan,” katanya.

Namun demikian Hidayat menyayangkan kenapa kader PKS selalu dinominasikan hanya sebagai calon wakil presiden. Padahal pemilu legislatif belum diselenggarakan. Menurutnya, dengan kondisi seperti ini berarti PKS sudah divonis kalah dari partai-partai lainnya.

“Pertandingan belum lagi dimulai, kok PKS sudah divonis kalah dan karenanya hanya layak dicalonkan menjadi calon wakil presiden,” kata Hidayat.

Hidayat mencontohkan pemilihan gubernur di Jawa Timur. Pilkada terakhir sebelum Pemilu itu membuktikan bahwa partai-partai besar di basis suara mereka dikalahkan oleh partai menengah. Pada Pilgub di Jawa Timur, Calon Gubernur dari PDIP, Golkar dan PKB dikalahkan oleh Calon Gubernur dari Partai Demokrat, PAN dan PKS.

Namun demikian, jika ada yang ingin memasangkan kader PKS dengan kader partai lainnya untuk capres dan atau cawapres, Hidayat menyarankan agar menghubungi Majelis Syuro.

“Maka bagi sapapun yang ingin menggandeng calon dari PKS agar menghubungi Majelis Syuro. Karena hal ini bukan keputusan pribadi melainkan amanat partai melalui mekanisme Majelis Syuro PKS,” pungkasnya.

Forum Islam Lobi Raja-raja Arab Tekan Israel

al-quran-kita

Jakarta – Delegasi Forum Ulama Islam Internasional melobi para raja dan presiden Arab supaya menekan Israel dan mendukung Palestina. Forum ini juga mendesak mereka memutus kerjasama dengan Israel.

“Tujuan kami menyampaikan kepada para raja dan presiden itu, terutama yang berada di sekitar Palestina membantu dan membela kemerdekaan Palestina,” kata Hidayat Nur Wahid, Wakil Ketua Al Quds International Foundation, Jumat 9 Januari 2009 di gedung DPR/MPR. Ketua Majelis Permusyawaratan itu merupakan salah satu anggota delegasi itu.

Hidayat mengatakan lobi mulai dilakukan 3 hingga 7 Januari 2009. Hari pertama delegasi itu bertemu tokoh-tokoh Qatar. Hari kedua menemui Raja Saudi Arabia, hari ketiga dengan Presiden Suriah, hari keempat dengan Raja Yordania, hari kelima bertemu Presiden Turki.

Di Suriah, delegasi itu juga bertemu para pemimpin kelompok perjuangan Palestina, termasuk Hamas. Di Yordania, mereka juga mengunjungi korban serangan Israel yang dirawat di rumah sakit.
Hidayat mengatakan delegasi itu tidak dapat bertemu Presiden Mesir.

Dalam surat balasan kepada delegasi itu, Presiden Mesir mengatakan tidak dapat bertemu karena waktu yang dijadwalkan untuk pertemuan itu belum tepat.

Selain itu, mereka juga mengharapkan dukungan Sekretaris Jenderal Liga Arab dan Sekjen Oranisai Konferensi Islam. Kedua organisasi Islam itu diminta supaya menekan Israel dan menghentikan serangan ke Palestina.

Delegasi ini juga meminta para pemimpin di Timur Tengah mempertimbangkan untuk menghentikan berbagai hubungan kerjasama dengan Israel. Menurut Hidayat, pemutusan hubungan akan efektif menekan Israel agar menghentikan serangan ke Palestina.

Delegasi juga memberikan penghargaan kepada beberapa negara. Di antaranya Yordania. Negara itu dinilai secara terbuka ingin menghentikan berbagai kerjasama dengan Israel.

Penghargaan juga diterima Turki. Sebab, negara ini dinilai berani bersikap dengan menyatakan ingin memutus kerjasama dengan Israel bila negara itu tetap keras dengan Palesina.

Juga kepada Mauritania yang berani menarik duta besar dari Israel. Presiden Venezuela juga diberi penghargaan karena telah mengusir duta besar dan pejabat Israel dari negara itu.

Delegasi itu terdiri dari 13 orang, antara lain, mantan Presiden Sudan, Abd Rahman Siwar, mantan Wakil Ketua MPR Saudi Arabia sekaligus Sekretaris Jenderal Liga Muslim Dunia, Doktor Abdullah Umar, dan Ketua Delegasi yang juga Ketua Forum Ulama Islam International, Yusuf Al Qaradhawi

Hidayat Nurwahid: PKS Akan Diuntungkan Golput

Solo – Keberadaan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) untuk menghadapi Pemilu mendatang sangat solid, dan apa bila dalam Pemilu ini banyak golput partai ini yang akan banyak diuntungkan.

Ketua MPR Dr Hidayat Nur Wahid,MA mengatakan hal itu pada “Seminar Nasional Pendidikan Politik untuk Mengantisipasi Golput” yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) di Solo, Selasa.

“PKS sementara ini yang paling solid dalam menghadapi Pemilu mendatang dan apabila dari pemilih banyak yang Golput partai ini yang paling diuntungkan, tetapi demi kepentingan nasional Golput harus diminimalkan, agar wakil-wakil rakyat yang dipilih itu berkualitas,” katanya.

Masyarakat kampus kecenderungannya banyak yang Golput, untuk itu melalui acara-acara seperti ini diharapkan bisa mengantisipasi adanya Golput. Semakin itu suatu negara dalam melaksanakan demokrasi akan semakin tinggi pula dalam mengatasi krisis global ini.

Untuk sampai saat ini sebenarnya masih banyak masyarakat yang belum paham mengenai tatacara memilih dalam Pemilu mendatang, dengan sistem yang baru mencotreng.

Untuk itu Komisi Pemilihan Umum (KPU) agar melaksanakan tugasnya sesuai tahapan-tahapan yang ada baik melakukan sosialisasi ditengah-tengah masyarakat maupun yang lainnya.

Menyinggung mengenai masalah pencalonan Presiden atau Wakil Presiden dari PKS, Hidayat Nur Wahid, mengatakan masih menunggu hasil Pemilu legislatif. `Ya kalau dalam Pemilu ini kami memenuhi syarat untuk mencalonkan Presiden kenaapa harus sekarang memilih Cawapres,” katanya.

Untuk itu semua bagi PKS masih menunggu hasil dari Pemilu Legislatif dulu, mengenai Golkar, PDI Perjuangan atau Partai Demokrat mau menggandeng silakan nanti akan diapresiasi.

“Indonesia merupakan suatu negara yang paling tinggi ketiga didunia dalam melaksanakan demokrasi, tetapi kalau dilihat dari segi agama nomor satu di dunia,” kata Ketua MPR.

Menyinggung mengenai masalah harapan Indonesia bisa mengembangkan demokrasi di Timur Tengah, ia mengatakan ini sangat sulit apabila Amerika Serikat juga tidak mengembangkan hal itu di sana.

“Sejak awal perkembangan politik di Indonesia selalu dikaitkan dengan agama dan untuk mencapai kemerdekaan pun juga sangat tinggi mengenai campur tangan agama,” katanya. (*)

Ketua MPR Minta KPU Maksimalkan Sosialisasi ‘Parlementary Treshold’

SOLO: Komisi Pemilihan Umum (KPU) diminta
memaksimalkan sosialisasi parlementary treshold, karena kekurangpahaman
masyarakat terhadap aturan itu berpotensi menimbulkan gejolak
pascapelaksanaan Pemilu Legislatif.

Permintaan tersebut dikemukakan Ketua MPR RI Hidayat Nurwahid
seusai menjadi keynote speech dalam seminar Pendidikan Politik untuk
Mengantisipasi Golput di auditorium Universitas Sebelas Maret (UNS)
Solo, Selasa (24/2).

Aturan parlementary treshold
mengharuskan partai politik (parpol) memperoleh 2,5% kursi di DPR RI.
Jika kurang dari jumlah tersebut, calon anggota DPR RI yang memperoleh
dukungan suara rakyat tetapi kurang jumlah keseluruhannya, akan hangus.

“Misalnya satu partai politik memperoleh dukungan dan menang di
satu daerah, sehingga bisa mengirim empat wakil ke DPR RI. Tetapi
ternyata di daerah lain kalah dan tidak bisa memenuhi aturan 2,5%,
empat kursi yang telah didapatkan harus hangus. Apa masyarakat sudah
tahu itu? Kalau terjadi amuk, siapa yang harus bertanggung jawab,”
katanya.

Oleh karena itu, kata Hidayat, masyarakat harus
diberi penjelasan yang sejelas-jelasnya mengenai aturan baru tersebut.
Sisa waktu yang ada harus bisa dimanfaatkan oleh KPU sebaik mungkin.

Begitu
pula mengenai penyelesaian sengketa pemilu. Sekarang saja friksi-friksi
di kalangan calon anggota legislatif sudah mulai terjadi. Antara lain,
saling melaporkan, membuat blok-blok, hingga mengklaim memperoleh
dukungan pemilih satu kelurahan.

Padahal, kata Hidayat, Pemilu
Legislatif mendatang menggunakan sistem suara terbanyak. Kalau kemudian
di antara para caleg itu terdapat satu selisih suara saja, akan menjadi
persoalan. Lantas, siapa yang berwenang menyelesaikannya?

Mahkamah
Konstitusi (MK), katanya, mengatakan itu bukan kewenangan mereka. KPU
apalagi, mereka tidak memiliki payung hukum untuk itu, terlebih partai
politik.

“Kalau menurut saya, MK harus meninjau kembali
sikapnya yang merasa bahwa itu bukan kewenangannya. Karena ini juga
menjadi bagian sengketa pemilu, sengketa penghitungan suara, sebab
caleg adalah bagian dari partai. Kalau tidak MK, siapa yang akan
menyelesaikan ini,” kata Hidayat.

Ia mengatakan, tidak perlu
dipersoalan apakah perlu perangkat undang-undang baru atau tidak.
Sebab, hal itu memerlukan waktu terlalu lama, padahal pemilu sudah di
depan mata.

Assalaamualaikum

11

Bismillaahirrahmaanirrahiim,
Assalamualaikum warahmatullaaahi wabarakaatuh,

Terima kasih sebelumnya kepada rekan blogger yang telah mampir. Bersilaturrahim di blog yang sederhana ini. Saya sangat bersyukur. Alhamdulillah, dengan waktu yang terbatas saya masih sempatkan membaca semua tanggapan yang masuk di blog ini. Namun, maafkan saya, karena tidak semua posting bisa saya tanggapi.

Rekan blogger yang dirahmati Allah, saya kira tidak ada masalah jika blog ini dibuat link. Mudah-mudahan bermanfaat dan semoga tidak disalahgunakan. Saya minta maaf kepada rekan blogger. Bagi mereka yang meminta blog ini diperbaharui dengan tulisan-tulisan, berbagi banyak hal, memberikan nasihat, sampai saat ini belum bisa dipenuhi. Sedikit demi sedikit, nanti akan ada tim yang mencoba membantu saya.

Untuk kegiatan, saya kira rekan blogger bisa membuka alamat web lain yang memang tempatnya. Silakan buka di www.hnw.or.id, mohon maaf kalau situsnya terlihat sangat sederhana Insya Allah staf saya sedang merencanakan mendesain ulang web itu. Silakan kunjungi juga website para sahabat saya di www.sahabathidayat.com. Kunjungi juga halaman Facebook saya. Doakan saya agar bisa cepat hadir dengan tampilan yang lebih menarik dan tentu bermanfaat isinya.

Soal taushiyah atau nasihat, sejujurnya saya tidak ingin menggarami laut yang sudah asin, mengajari ikan berenang, dan mengajari burung terbang. Karena saya yakin dunia maya bukan laut dan para blogger bukan ikan dan burung yang harus diajari berenang dan terbang.

Maksud saya, tidak perlu lah saya banyak memberikan nasihat di tengah-tengah orang yang mempunyai banyak ilmu, ditengah orang yang bahkan sedang giat-giatnya mencari ilmu. Di internet, kita bisa mendapatkan banyak hal, tinggal kita ketik data yang kita butuhkan, semuanya tersedia.

Justru sebaliknya, kenapa saya membuka blog ini karena ingin sekali saling berbagi mengenai ilmu, mengenai pengetahuan, mengenai informasi-informasi yang sangat mungkin saya belum mengetahui tentangnya. Lagi-lagi babnya adalah bagaimana kemudian kita menghargai ilmu itu sendiri, sejauhmana kita bisa mengaktualisasikan, merealisasikan ilmu yang kita dapatkan, tidak masalah banyak atau sedikit, dari siapapun juga.

Demikian, mudah-mudahan kita bisa bersilaturrahim di lain waktu.

Wassalam

Mengejar Cita-cita..

Sewaktu tamat SD saya ingin sekali jadi dokter. Karena di tempat saya lahir di Prambanan, hanya ada satu dokter dan di kampung dimana saya tinggal hanya ada satu mantri kesehatan. Betapa mulianya mereka karena bisa membantu tetangga, bisa membantu sesama, memberikan obat, membantu kesembuhan penyakit. Saya ingin seperti mereka.

Eh… oleh ayah saya malah dikirim ke pesantren Gontor, ya sudah. Tapi waktu saya dikirim ke Gontor, yaa saya tidak menyesal, tidak pula menyesali ayah yang sudah mengirim saya ke sana. Disana saya belajar dengan serius hingga teman-teman pesantren menyebut saya dengan kutu buku, yaaa orang menyebut saya sangat rajin. Kalau di pesantren ada istilah sairolaya yang artinya begadang. Saya juga membentuk grup untuk qiyamul lail dan grup puasa senin-kamis dengan teman-teman saya. Dan jangan pernah membayangkan di pesantren, kalau makan dan minum seadanya yang ada di pesantren.
Di pesantren saya ikuti seluruh kegiatan, silat, kursus sastra inggris dan arab, termasuk jahit menjahit saya ikuti. Dan yang menjadi andalan saya adalah kegiatan pramuka. Setamat dari Gontor yaaa Alhamdulillah hasil raport saya kalau tidak peringkat satu yaa dua.
Selesai dari Gontor saya masih terobsesi menjadi dokter, lalu saya mendaftar di UGM. Tapi apa, kiai saya bilang: kalau kamu mau keluar negeri supaya bahasa arab kamu menjadi lebih baik, saya kasih ijazah.

Sesungguhnya pesantren saya tidak pernah mengeluarkan ijazah. Saya pikir dengan begini pesantren saya menolak untuk memberikan ijazah, tapi ternyata saya malah dikasih ijazah oleh kiai saya itu. Kemudian ada senior saya yang mendapatkan ijazah melalui kursus bahasa arab. Dia mengatakan, kok ijazah daro Gontor cuma digunakan di dalam negeri yaa mubazir. Akhirnya senior saya itu mengambil ijazah saya dan mengirimkannya ke Madinah. Jadi bukan saya yang mengirim ijazah ke Medinah, senior saya yang kirim. Dan jadilah saya kuliah di Madinah. Disana saya sempat ikut organisasi, menjadi pemimpin persatuan pelajar Indonesia di Saudi Arabia. Saya juga aktif di olahraga, saya termasuk orang yang membuat lapangan badminton di kampus. Sampai saat ini saya masih main badminton. Saya juga pernah ikut lomba balap lari di padang pasir. Pernah ketika berlari di padang pasir di pagi hari saya dikejar anjing serigala. Saya pikir sudah berlari di padang pasir, dikejar anjing juga…

Terus terang Saya agak takut juga dikejar anjing serigala waktu itu. Tapi saya teringat di Indonesia kalau dikejar anjing, kita duduk anjingnya balik. Mungkin ini spekulatif, tapi mungkin juga ada bahasa internasional para anjing. Jadi begitu dikejar, saya duduk. Ternyata anjing itu berhenti dan balik lagi tidak jadi mengejar. Ternyata memang sama bahasanya sesama para anjing. Anjing-anjing itu kabur dan selamatlah saya.

Di Madinah pun saya aktif mengikuti kegiatan olahraga, organisasi, pramuka dan belajar juga saya giatkan. Dan demikianlah saya mengikuti kuliah jenjang S1 dan S2 tanpa pernah meminta, bahkan saat S2 saya minta pulang karena ingin berdakwah di tanah air. Tapi apa daya, saya kembali dipaksa kuliah melanjutkan ke S3. Mungkin satu-satunya di dunia kuliah S3 yang dipaksa, maksanya pun pake merayu segala. Oleh dosen pembimbing saya diajak keliling kota Madinah oleh mobil pribadinya, beliau sendiri yang menyetir. Beliau Direktur Pasca Sarjana di Universitas Madinah. Sepanjang jalan belau merayu saya supaya mau masuk program S3. Seluruh argumentasi beliau bisa saya jawab. Hanya satu yang tidak bisa saya jawab yakni ketika beliau mengatakan: anda kok ngotot mau pulang?apakah anda sudah mumpuni, seluruh ilmu sudah anda kuasai sehingga anda tidak pelu lagi belajar? Dengan pertanyaan itu, saya mati kutu. Siapa yang sudah mumpuni, siapa orang yang sudah tidak perlu ilmu lagi?

Justru kata kiyai saya, kalau anak-anakku pulang ke masyarakat, itu artinya anak-anakku akan belajar lagi ilmu dari masyarakat. Dia akan belajar lagi. Saya terdiam, dan kemudian beliau memerintahkan besok masukkan proposal ke program S3. Dan akhirnya masuk. Dengan begitu semakin jauh lah cita-cita saya. Dari awal menjadi dokter akhirnya menjadi doctor.

Ketika pulang ke Indonesia, saya inginnya pulang ke Yogyakarta dekat dengan prambanan, tempat dimana saya dilahirkan. Tapi apa boleh buat, sekali lagi cita-cita saya kandas di tengah jalan. Teman-teman saya di Jakarta “megangin tangan” saya. Sudah di Jakarta saya inginnya jadi aktivis, jadi dosen. Eh…kawan-kawan justru bikin partai. Pendapat saya waktu itu kita jangan buat orpol dulu ormas saja. Supaya gak lompat jauh dari LSM ke Parpol. Tapi ternyata tidak. Gak lama bikin ormas lalu bikin orpol. Kan lompatnya jauh. Suara saya di Syuro kalah. Apa boleh buat saya harus mengikuti hasil syuro itu. Setelah kalah suara justru disuruh menjadi deklarator, disuruh menjadi presiden…presiden partai maksud saya.

Itu semuanya diluar dari apa yang saya cita-citakan. Karenanya berprestasi atau nggak, gak ngerti saya. Karena semua yang saya ceritakan diluar dari cita-cita saya. Tapi selama ini yang saya lakukan ketika mendapatkan posisi, apapun itu, saya laksanakan dengan maksimal. Mulai dari kuliah S1, S2, S3 justru yang mengajukan bukan saya. Saya belajar dengan maksimal ditempat dimana saya diamanahkan di sana. Sampai akhirnya saya menjadi Ketua MPR ya sudah, saya terima apa adanya. Dulu saya gak pernah baca Undang Undang Dasar, gak pernah tahu ayat-ayat kecuali ayat Al Qur’an dan ayat-ayat cinta. Sekarang ini, “terpaksa” saya harus baca dan bahkan menghapal UUD 1945 diluar kepala. Kalau sekarang kita berdebat soal Undnag Undang yaaa, inysa Allah saya bisa mengalahkan anda. Otomatis, itu yang saya lakukan, memaksimalkan pekerjaan. Jadi kalau boleh disebut, apa yang saya lakukan , apapun amanah yang saya dapat, saya mengerjakannya dengan maksimal. Menurut saya berapa jam tidurnya tidak menjadi ukuran orang bisa berprestasi atau tidak. Sesuaikan saja dengan tantangan pada hari itu apa.

MPR Minta IPU Keluarkan Israel

Jakarta – Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) meminta Asian Parliamentary  Assembly (APA) terus memperjuangkan dengan serius agar Israel dikeluarkan dari keanggotaan IPU. Pasalnya, perilaku Israel membunuhi warga sipil Palestina, sebagian besar wanita dan anak-anak telah melanggar HAM dan bertentangan dengan nilai-nilai demokrasi.  MPR meminta Agung Laksono yang juga Presiden APA mengambil peran terhadap upaya ini, sebagai bagian dari upaya selamatkan demokrasi di Timur Tengah.

Ketua MPR RI Dr Hidayat Nur Wahid mengatakan hal tersebut kepada wartawan saat menyampaikan sikap resmi MPR soal agresi Israel kepada warga Palestina, Rabu(15/1).

Dalam pernyataan yang ditantadatangani seluruh pimpinan, MPR mengutuk keras kejahatan kemanusiaan dan menyatakan duka cita yang mendalam atas jatuhnya korban pada masyarakat sipil seperti ibu, orang tua, dan anak-anak. Perang itu telah menghancurkan sekolah, rumah sakit, tempat ibadah, pasar, tempat pengungsian dll.

“Di saat para pejuang Palestina di Gaza sedang mempertahankan tanah airnya dari agresi kolonialis Israel,  Presiden Mahmud Abbas hendaknya berada di garis terdepan untuk menyatukan rakyat Palestina guna menyelamatkan Gaza dari penjajahan dan Genocide Israel,” papar Hidayat atas nama Pimpinan MPR.

Hidayat menjelaskan, MPR mengeluarkan pernyataan sikap ini sesuai dengan amanat Alinea Pertama Pembukaan UUD NRI Tahun 1945 yang menyatakan bahwa kemerdekaan merupakan hak segala bangsa, dan segala bentuk penjajahan yang tidak sesuai dengan dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan harus dihapuskan.

Lebih lanjut, Hidayat menyarankan kepada Presiden SBY agas terus berkomunikasi langsung dengan Presiden Mesir Husni Mubarok dan PM Turki Recep Tayip Erdogan. Menurutnya, kedua pemimpin negara ini memegang peranan kunci dalam penyelesaian konflik Israel-Gaza.

MPR juga memberikan apresiasi kepada pemerintah, masyarakat, dan media massa Indonesia, yang memberikan dukungan kepada aksi damai kemanusiaan yang terus menerus dilakukan sebagai wujud solidaritas terhadap perjuangan Palestina.

“Warga Palestina mendengar aksi-aksi yang dilakukan oleh beragam kalangan untuk mendukung perjuangan mereka. Dan mereka menyampaikan salam dan terima kasih kepada rakyat dan bangsa Indonesia atas dukungan,” pungkas Hidayat.